Sunday, 29 March 2015

KAJIAN AL-HIKAM

"Man Arofa Al-Haqq Syahiduhu Fi Kulli Syai'in"
Barang siapa yang mampu mengetahui yang Maha benar, maka ia akan melihat Tuhan di setiap perkara yang ia lihat. 

Begitulah syekh Ibnu Attoilah berkata dalam kitab alhikamnya, ia mengatakan bahwa jika seorang manusia telah mengetahui Tuhannya (ma'rifatulloh) maka ia akan bisa melihat tuhan di setiap apa yang ia lihat dan apa yang ia rasakan, mungkin inilah yang yang di sebut ittishol dalam ilmu Tasauf.
Konsep ittishol dalam ilmu tasauf dapat di artikan dengan "menyatu" dengan tuhan. 

Kita tahu bahwa manusia adalah mahluk tuhan yang terdiri dari dua unsur, yaitu unsur nassut (dimensi kemanusiaan) dan unsur lahut (dimensi kerohanian), jika seorang manusia telah bisa menekan  unsur nassutnya dan menonjolkan unsur lahhutnya maka ia mempunyai potensi untuk ittishol (menyatu dengan tuhan).

Namun yang di maksud "menyatu" disini bukanlah dengan Dzat Tuhan, karna Dzat Tuhan itu tidak akan pernah bisa terjangkau oleh siapapun. Oleh karna itu perlu kita ketahui bahwa tuhan mempunyai dua unsur[1], yaitu unsur lahhut dan unsur nassut, atau dalam bahasa tauhid sering disebut Dzat dan Sifat. Maka yang dimaksud menyatu dengan Tuhan itu adalah antara lahhutnya manusia dengan nassutnya Tuhan, dengan kata lain menyatunya dimensi kerohanian manusia dengan sifat-sifatnya Tuhan, sehingga seorang yang telah menyatu dengan tuhan (ma'rifattulloh) akan mampu mengaplikasikan semua Sifat-sifat ­ Tuhan dalam dirinya. Ia akan merasa disaksikan oleh tuhan, di lihat oleh tuhan, di awasi oleh tuhan, di dengarkan oleh tuhan bahkan digerakan oleh tuhan, sehingga semua yang ia lihat, semua yang ia rasakan dan semua yang ia lakukan akan di sandarkan kepada tuhan (Syahiduhu Fi Kulli Syai'in)



No comments:

Post a Comment