"Man Arofa Al-Haqq Syahiduhu Fi Kulli Syai'in"
Barang siapa yang mampu mengetahui yang Maha benar,
maka ia akan melihat Tuhan di setiap perkara yang ia lihat.
Begitulah syekh Ibnu Attoilah berkata dalam kitab
alhikamnya, ia mengatakan bahwa jika seorang manusia telah mengetahui Tuhannya
(ma'rifatulloh) maka ia akan bisa melihat tuhan di setiap apa yang ia
lihat dan apa yang ia rasakan, mungkin inilah yang yang di sebut ittishol dalam
ilmu Tasauf.
Konsep ittishol dalam ilmu tasauf dapat di
artikan dengan "menyatu" dengan tuhan.
Kita tahu bahwa manusia adalah mahluk tuhan yang
terdiri dari dua unsur, yaitu unsur nassut (dimensi kemanusiaan)
dan unsur lahut (dimensi kerohanian), jika seorang manusia telah
bisa menekan unsur nassutnya dan menonjolkan unsur lahhutnya
maka ia mempunyai potensi untuk ittishol (menyatu dengan tuhan).
Namun yang di maksud "menyatu" disini
bukanlah dengan Dzat Tuhan, karna Dzat Tuhan itu tidak akan
pernah bisa terjangkau oleh siapapun. Oleh karna itu perlu kita ketahui bahwa
tuhan mempunyai dua unsur[1], yaitu unsur lahhut dan unsur nassut, atau
dalam bahasa tauhid sering disebut Dzat dan Sifat. Maka
yang dimaksud menyatu dengan Tuhan itu adalah antara lahhutnya manusia
dengan nassutnya Tuhan, dengan kata lain menyatunya dimensi kerohanian manusia
dengan sifat-sifatnya Tuhan, sehingga seorang yang telah menyatu dengan
tuhan (ma'rifattulloh) akan mampu mengaplikasikan semua Sifat-sifat Tuhan
dalam dirinya. Ia akan merasa disaksikan oleh tuhan, di lihat oleh tuhan, di
awasi oleh tuhan, di dengarkan oleh tuhan bahkan digerakan oleh tuhan, sehingga
semua yang ia lihat, semua yang ia rasakan dan semua yang ia lakukan akan di
sandarkan kepada tuhan (Syahiduhu Fi Kulli Syai'in)
No comments:
Post a Comment